S
Sitihinggil Keraton Yogyakarta
Terverifikasi

Sitihinggil Keraton Yogyakarta

Sitihinggil Keraton Yogyakarta adalah bangunan bersejarah di Kraton, Yogyakarta. Punya rating 4.8 dari 48 ulasan pelanggan.

4.8
48 ulasan

Tentang bisnis ini

Berada di Kraton, Yogyakarta, Sitihinggil Keraton Yogyakarta merupakan toko bangunan yang bisa jadi pilihan. Rating 4.8 dari 48 ulasan Google mencerminkan pengalaman pelanggan yang sudah berkunjung. Pengunjung memberi nilai tertinggi pada pelayanan dan lokasi.

Layanan yang tersedia antara lain semen, keramik, cat, dan besi.

Lokasi terverifikasi
Jadi mitra CariBisnis
Signature

Layanan & harga

Layanan Toko BangunanRp 93–466rb

Berbagai layanan tersedia, harga sesuai paket

Ulasan pelanggan

48 ulasan total· menampilkan 5 ulasan terbaru

4.8
48 ulasan
5★
75%
4★
18%
3★
5%
2★
1%
1★
1%
SemuaBintang 5Bintang 4TerbaruFoto
Afanmuzaki
AfanmuzakiUlasan dari Google Maps
·9 bulan lalu

Pengakuan yang menarik dan mengedukasi.. Suasana nya syahdu.. Kebetulan ketika berkunjung Ada pertunjukan wayang.. Kita dibawa keterangan apa ini dan lain2 banyak .. Tempat nya bersih dan asri dibeberapa bagian

Narala Grha
Narala GrhaUlasan dari Google Maps
·3 bulan lalu

Sitihinggil bukan sekadar tanah yang ditinggikan. Ia adalah panggung sunyi tempat para leluhur Jawa menyimpan pelajaran tentang kekuasaan, kerendahan hati, dan tanggung jawab manusia kepada sesamanya. Sebagian besar wisatawan melihat Sitihinggil sebagai pelataran tinggi di depan inti Keraton Yogyakarta. Secara sejarah, tempat ini digunakan untuk upacara-upacara penting Kesultanan, termasuk penobatan Sultan dan berbagai peristiwa kenegaraan yang menentukan arah perjalanan Yogyakarta. Namun semakin lama saya berdiri di sini, semakin saya merasa bahwa para pendiri Keraton sebenarnya sedang menyampaikan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar fungsi sebuah bangunan. Rahasia itu tersembunyi pada namanya. **Sitihinggil.** *Siti* berarti tanah. *Hinggil* berarti tinggi. Tanah yang ditinggikan. Bukan istana yang ditinggikan. Bukan singgasana yang ditinggikan. Melainkan tanah. Dan mungkin di situlah letak pesan yang paling indah. Bahwa setinggi apa pun seseorang naik dalam hidupnya, pada akhirnya ia tetap berpijak pada tanah yang sama. Di tempat ini, para Sultan pernah berdiri di hadapan rakyatnya. Mereka berada di posisi yang lebih tinggi secara fisik. Namun filosofi Jawa justru mengajarkan kebalikannya. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar kewajibannya untuk melayani. Bukan dilayani. Inilah hidden story yang jarang disadari. Sitihinggil bukan dibangun untuk meninggikan seorang raja. Sitihinggil dibangun agar seorang raja dapat melihat lebih jauh. Melihat rakyatnya. Melihat negerinya. Melihat tanggung jawab yang dipikulnya. Karena kekuasaan tanpa pandangan yang luas akan berubah menjadi kesombongan. Dan pandangan yang luas hanya dimiliki oleh mereka yang bersedia belajar dari banyak sudut kehidupan. Ketika saya memandang hamparan Alun-Alun dari kawasan ini, saya membayangkan para Sultan yang berdiri di tempat yang sama selama lebih dari dua abad. Mereka menyaksikan musim berganti. Generasi berganti. Perang datang dan pergi. Penjajahan datang dan pergi. Pemerintahan berganti. Namun satu pertanyaan tetap sama: "Apakah kekuasaan yang dimiliki digunakan untuk kebaikan?" Tidak ada tembok yang dapat menjawab pertanyaan itu. Tidak ada mahkota yang dapat menjawabnya. Hanya hati seorang pemimpin yang mampu menjawabnya. Dan mungkin itulah sebabnya kawasan ini terasa begitu berbeda. Ia tidak sedang berbicara tentang kejayaan. Ia sedang berbicara tentang amanah. Sitihinggil mengajarkan bahwa menjadi besar bukanlah tentang berdiri lebih tinggi daripada orang lain. Melainkan tentang melihat lebih jauh demi kepentingan orang lain. Sebagai insan konstruksi **Narala Grha**, saya melihat tempat ini sebagai salah satu karya arsitektur paling cerdas yang pernah dibuat para leluhur Jawa. Karena tanpa satu kata pun, tempat ini mampu mengajarkan filosofi kepemimpinan yang relevan hingga hari ini. Bahwa jabatan hanyalah titipan. Kekuasaan hanyalah sementara. Namun manfaat yang diberikan kepada sesama dapat hidup jauh lebih lama daripada pemiliknya. Saat meninggalkan Sitihinggil, saya tidak hanya melihat sebuah situs sejarah. Saya melihat sebuah cermin. Cermin yang mengingatkan bahwa semakin tinggi seseorang berdiri, semakin ia harus merendahkan hatinya. "Tanah yang ditinggikan mengajarkan satu hal: jangan pernah lupa tempat kita berpijak, setinggi apa pun kita melangkah." Dan mungkin itulah rahasia yang selama ratusan tahun dijaga oleh Sitihinggil Keraton Yogyakarta. — Narala Grha "Membangun bukan hanya meninggikan bangunan, tetapi meninggikan nilai yang membuat manusia layak dihormati."

Singgih Widjajanto
Singgih WidjajantoUlasan dari Google Maps
·4 tahun lalu

kalo weekend cobalah berlibur kesini, ada pertunjukan tari tarian yang biasa dimulai jam 11, biasanya sebelum jam 11 sudah banyak orang yang duduk di kursi maupun selasar pendopo, ramai sekali, anda akan merasa takjub dan terkesan dengan tarian tarian yang dibawakan oleh penari keraton Jogjakarta

Annisa S
Annisa SUlasan dari Google Maps
·7 tahun lalu

Wajib di kunjungi tapi kalau ingin sekalian berkunjung ke keraton pada hari jum'at harus datang lebih awal, karena keraton tutup jam 12.30 WIB. Kalau pagelaran tetap buka sampai jam 14.00 WIB

Sharnoe 18
Sharnoe 18Ulasan dari Google Maps
·11 bulan lalu

Tempat untuk diadakan pertunjukan atau pagelaran acara keraton. Tempat luas atau bangunan ini menjadi pintu depan keraton Yogyakarta. Tempat parkir tersedia.

Lihat 43 ulasan lainnya di Google Maps

Info & jam buka

Lihat jam buka di sidebar kanan + alamat lengkap di section kontak.

TeleponChat sekarang